Ritus dan Festival Lokal: Upacara Adat di Gunung Bromo

Gunung Bromo, dengan lanskapnya yang ikonik dan keindahan alam yang memukau, tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata alam, tetapi juga sebagai tempat sakral bagi masyarakat Tengger. Di balik panorama kaldera yang megah, tersimpan kekayaan budaya yang diwujudkan melalui ritus dan festival lokal yang sarat makna. Ritus dan festival lokal ini adalah cerminan dari keyakinan kuat Suku Tengger terhadap leluhur dan alam, di mana mereka mempraktikkan upacara adat sebagai bentuk rasa syukur dan permohonan keselamatan.

Salah satu upacara paling terkenal adalah Yadnya Kasada, sebuah ritual tahunan yang diadakan pada bulan Kasada dalam kalender Jawa. Upacara ini biasanya berlangsung pada malam hari hingga fajar di hari ke-14 dan ke-15 bulan Kasada. Para penganut Hindu Tengger akan berkumpul dan mendaki kawah Gunung Bromo untuk melemparkan persembahan berupa hasil bumi, ternak, dan uang tunai ke dalam kawah sebagai sesajen untuk para dewa dan leluhur. Menurut kesaksian Bapak Sutomo, seorang petugas keamanan dari Polsek Sukapura yang bertugas pada hari Jumat, 21 Juni 2024, persiapan Yadnya Kasada tahun ini sangat terkoordinasi dengan baik, melibatkan aparat kepolisian, aparat desa, dan tokoh adat setempat untuk memastikan kelancaran dan keamanan seluruh prosesi.

Selain Yadnya Kasada, ada pula Upacara Karo yang diadakan untuk memperingati hari raya Suku Tengger. Upacara ini lebih fokus pada pembersihan diri, pemujaan roh leluhur, dan pertunjukan seni tradisional yang melibatkan seluruh komunitas. Prosesi ini biasanya diawali dengan doa bersama di pura, dilanjutkan dengan acara makan bersama yang disebut ‘Bancakan’ dan diakhiri dengan tarian-tarian tradisional yang diiringi musik gamelan. Upacara Karo menunjukkan ritus dan festival lokal yang berfungsi sebagai perekat sosial, memperkuat tali kekeluargaan, dan melestarikan identitas budaya mereka.

Penting untuk dipahami bahwa upacara-upacara adat ini bukan sekadar tontonan, melainkan wujud keyakinan mendalam yang diwariskan dari generasi ke generasi. Setiap gerakan, mantra, dan persembahan memiliki makna filosofis yang mendalam. Mereka meyakini bahwa dengan menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan, mereka akan mendapatkan keberkahan dan terhindar dari malapetaka. Contohnya, pada tanggal 19 Mei 2024, dalam acara Baritan, upacara sedekah desa, seluruh warga Tengger di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, secara kolektif bergotong royong menyiapkan sesajen untuk kemudian diletakkan di berbagai titik strategis di desa, sebagai bentuk tolak bala dan harapan agar panen melimpah.

Secara keseluruhan, ritus dan festival lokal di Gunung Bromo adalah jendela untuk melihat kekayaan spiritual dan budaya Suku Tengger yang unik. Melalui ritual-ritual ini, mereka tidak hanya mempertahankan tradisi leluhur, tetapi juga menyampaikan pesan universal tentang pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan alam dan sesama. Mengunjungi Bromo bukan hanya soal menikmati pemandangan alamnya, melainkan juga menghargai warisan budaya yang telah bertahan menghadapi perubahan zaman. Upacara-upacara ini menjadi bukti bahwa di tengah hiruk pikuk modernisasi, kearifan lokal tetap hidup dan terus dijaga dengan teguh oleh masyarakatnya.

Theme: Overlay by Kaira Extra Text
Cape Town, South Africa