Menjelajahi Jejak Sejarah di Candi Singosari dan Candi Jago

Kota Malang tidak hanya terkenal dengan udaranya yang sejuk dan keindahan alamnya, tetapi juga menyimpan banyak jejak peradaban masa lalu yang kaya. Bagi para penggemar sejarah dan budaya, menjelajahi jejak sejarah di Candi Singosari dan Candi Jago adalah sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Kedua candi ini merupakan saksi bisu kejayaan Kerajaan Singasari pada abad ke-13 dan menjadi bukti nyata dari warisan budaya yang tak ternilai harganya. Kunjungan ke situs-situs ini bukan sekadar liburan, melainkan sebuah perjalanan kembali ke masa lalu.

Candi Singosari, yang terletak di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, adalah salah satu peninggalan paling penting dari Kerajaan Singasari. Candi ini dibangun sebagai bentuk penghormatan untuk Raja Kertanegara, raja terakhir Kerajaan Singasari yang wafat pada tahun 1292. Menurut data dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur pada 15 Oktober 2025, Candi Singosari memiliki ketinggian sekitar 17 meter dan dibangun dengan gaya arsitektur yang unik, memadukan unsur Jawa Hindu dan Buddha. Di sekitar candi, Anda masih dapat menemukan arca-arca kuno yang menggambarkan dewa-dewi Hindu. Pengunjung yang datang pada hari kerja, antara Senin hingga Jumat, akan merasakan ketenangan dan kedamaian di area candi, yang jauh dari keramaian akhir pekan.

Sementara itu, Candi Jago memiliki kisah yang berbeda. Candi ini terletak di Desa Tumpang, sekitar 22 kilometer dari pusat Kota Malang. Candi Jago adalah perwujudan dari Candi Jajaghu yang tercatat dalam Kitab Negarakertagama dan Pararaton. Candi ini didirikan pada masa pemerintahan Raja Kertanegara untuk menghormati ayahnya, Raja Wisnuwardhana. Menurut juru kunci candi, Bapak Widodo, yang telah bertugas selama 30 tahun, Candi Jago adalah salah satu contoh candi yang unik karena memiliki perpaduan antara relief Hindu dan Buddha. Di sini, pengunjung dapat menjelajahi jejak sejarah melalui relief-relief yang mengisahkan cerita-cerita epik seperti Kunjarakarna dan Pancatantra.

Kisah kedua candi ini tidak dapat dipisahkan. Keduanya adalah bagian dari Kerajaan Singasari yang sama, namun dengan fungsi dan cerita yang berbeda. Candi Singosari adalah monumen yang didedikasikan untuk raja terakhir, sementara Candi Jago adalah candi pendharmaan untuk ayahnya. Menjelajahi jejak sejarah keduanya dalam satu perjalanan memberikan gambaran yang lebih utuh tentang peradaban Kerajaan Singasari dan pengaruhnya terhadap budaya di sekitarnya. Sejarawan lokal, Ibu Wulandari, dalam sebuah lokakarya pada 5 November 2025, menegaskan bahwa kedua candi ini adalah bukti nyata dari tingginya peradaban dan seni arsitektur pada masa itu.

Pada akhirnya, menjelajahi jejak sejarah di Candi Singosari dan Candi Jago adalah lebih dari sekadar melihat tumpukan batu kuno. Ini adalah kesempatan untuk merasakan kembali keagungan masa lalu, memahami filosofi di balik setiap arsitektur, dan menghargai warisan budaya yang telah bertahan selama berabad-abad. Perjalanan ini adalah pengingat bahwa di balik modernitas, kita harus tetap terhubung dengan akar-akar sejarah kita.

Theme: Overlay by Kaira Extra Text
Cape Town, South Africa