Malang dan Apel adalah dua hal yang tidak terpisahkan dalam benak wisatawan. Namun, di balik promosi wisata yang gencar dan pembangunan vila-vila mewah, tersimpan sebuah realitas yang mengkhawatirkan. Lahan Apel Malang yang dahulu menghijau subur di lereng-lereng gunung kini kian berkurang drastis setiap tahunnya. Alih fungsi lahan menjadi tantangan besar yang mengancam identitas kota ini sebagai produsen apel utama di Indonesia.
Penyebab utama dari penyusutan ini adalah tekanan pembangunan properti yang masif. Kebutuhan akan penginapan dan destinasi hiburan buatan telah memicu apa yang disebut sebagai pembangunan Wisata Beton. Sawah dan kebun apel dikeruk untuk dijadikan pondasi bangunan permanen. Bagi sebagian petani, menjual lahan mereka kepada pengembang adalah pilihan yang sulit namun menggiurkan secara finansial dalam jangka pendek, terutama ketika produktivitas lahan mulai menurun akibat perubahan iklim yang tidak menentu.
Krisis ini diperparah dengan berkurangnya minat generasi muda untuk meneruskan usaha pertanian. Menjadi petani apel dianggap tidak lagi menjanjikan dibandingkan bekerja di sektor jasa pariwisata. Padahal, tanpa adanya kebun-kebun apel, daya tarik asli Malang akan hilang. Fakta pahit yang harus dihadapi adalah bahwa ketika semua lahan telah tertutup beton, suhu udara di wilayah tersebut cenderung meningkat, yang pada gilirannya akan merusak kualitas buah apel yang masih tersisa. Suhu yang lebih hangat membuat pohon apel sulit berbunga dan berbuah dengan maksimal.
Selain itu, biaya perawatan kebun apel yang semakin mahal menjadi beban tersendiri bagi para petani. Mulai dari harga pupuk hingga obat-obatan untuk menangani hama, semuanya terus merangkak naik. Tanpa dukungan kebijakan yang kuat dari pemerintah untuk melindungi lahan produktif, para petani merasa berjuang sendirian. Jika tren ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin di masa depan kita hanya bisa melihat pohon Apel di dalam museum atau sekadar menjadi nama jalan, tanpa ada lagi buah segar yang bisa dipetik langsung dari pohonnya.
Gemerlap pariwisata seharusnya berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan, bukan justru menghancurkannya. Wisata berbasis alam dan pertanian seharusnya menjadi fokus utama agar lahan tetap terjaga. Namun, realita di lapangan seringkali berkata lain. Investasi besar lebih tertarik pada pembangunan taman bermain buatan yang memberikan keuntungan cepat, meski harus mengorbankan ekosistem lokal yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu.