Candi Singosari, yang terletak di Kecamatan Singosari, Malang, Jawa Timur, bukan sekadar tumpukan batu kuno, melainkan saksi bisu kejayaan salah satu kerajaan terkuat di Nusantara pada abad ke-13. Keberadaannya menjadi titik fokus bagi siapa pun yang ingin Menggali Warisan Kerajaan Singasari yang didirikan oleh Ken Arok. Candi ini diyakini dibangun sebagai penghormatan atau pratistha bagi Raja Kertanegara, raja terakhir dan terbesar Singasari, yang wafat pada tahun 1292 Masehi. Upaya Menggali Warisan Kerajaan ini membawa kita pada pemahaman mendalam tentang praktik keagamaan sinkretis pada masa itu, yang memadukan ajaran Siwa-Buddha. Mempelajari arsitektur Candi Singosari adalah cara terbaik untuk Menggali Warisan Kerajaan yang penuh misteri.
Secara historis, pembangunan candi ini terkait erat dengan upacara Sraddha, sebuah ritual peringatan kematian seorang raja yang dilakukan 12 tahun setelah kemangkatannya. Oleh karena itu, diperkirakan candi ini baru selesai dibangun pada masa awal Kerajaan Majapahit, sebagai bentuk penghormatan oleh menantu Kertanegara, Raden Wijaya. Salah satu keunikan Candi Singosari adalah bentuknya yang masih terkesan belum sepenuhnya rampung. Arkeolog Senior, Dr. Rina Kusuma, Ph.D., dalam publikasi Jurnal Arkeologi Nusantara pada tanggal 15 Maret 2024, mencatat bahwa arsitektur candi menunjukkan transisi gaya dari Jawa Tengah kuno ke gaya Jawa Timur yang lebih ramping dan tinggi.
Candi ini menyimpan beberapa artefak penting, meskipun banyak patung aslinya yang telah dipindahkan, seperti patung Prajnaparamita yang kini tersimpan di Museum Nasional Jakarta. Di sekitar kompleks candi, terdapat beberapa arca raksasa Dwarapala (arca penjaga gerbang) yang sangat terkenal, berukuran lebih dari 3,7 meter tingginya. Arca-arca ini dipindahkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-20, namun kemudian dikembalikan ke lokasi asalnya. Petugas Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), Bapak Agus Santoso, dalam laporannya pada bulan Juni 2025, memastikan bahwa upaya konservasi rutin dilakukan setiap tiga bulan sekali untuk melindungi batuan andesit candi dari pelapukan akibat cuaca.
Kisah tentang akhir tragis Kertanegara, yang tewas akibat serangan mendadak Raja Jayakatwang dari Kediri, adalah bagian tak terpisahkan dari jejak candi ini. Warisan Kerajaan Singasari yang tersisa di Candi Singosari bukan hanya monumen batu, tetapi juga narasi tentang kekuatan, spiritualitas, dan transisi kekuasaan di Jawa.