Di tengah hamparan Kabupaten Malang, Jawa Timur, berdiri tegak sebuah monumen batu andesit yang menjadi saksi bisu kejayaan salah satu kerajaan terbesar di Nusantara, yaitu Kerajaan Singasari. Monumen tersebut adalah Candi Singasari. Keberadaan candi ini menjadi penanda vital lokasi ibu kota kerajaan yang berdiri kokoh dari tahun 1222 M hingga 1292 M. Bagi para sejarawan dan peneliti, Candi Singasari adalah sumber informasi tak ternilai untuk memahami transisi kekuasaan dan perkembangan agama Hindu-Buddha sinkretis di Jawa pada abad ke-13. Bangunan candi ini, yang diperkirakan didirikan sebagai candi pendharmaan untuk menghormati Raja Kertanagara, merupakan salah satu peninggalan paling penting di kawasan Malang Raya.
Candi ini terletak di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari. Berdasarkan penelitian arkeologi dan catatan sejarah seperti Pararaton dan Nagarakretagama, Candi Singasari diyakini dibangun pada masa akhir kekuasaan Kertanagara, raja terakhir Singasari, yang wafat pada tahun 1292. Namun, proses pembangunannya diperkirakan belum selesai ketika terjadi serangan mendadak dari Jayakatwang, Adipati Kediri, yang mengakhiri riwayat Kerajaan Singasari. Hal ini terlihat dari bagian atas candi yang masih polos tanpa pahatan relief, berbeda dengan candi-candi pendharmaan pada umumnya yang detail.
Struktur candi ini memiliki tinggi sekitar 14 meter dengan denah bujur sangkar, menampilkan corak Hindu-Buddha. Meskipun candi utama sebagian belum selesai, di sekitar kompleks ditemukan sejumlah arca besar yang sangat terkenal. Arca Dwarapala raksasa setinggi kurang lebih 3,7 meter, yang berfungsi sebagai penjaga gerbang kompleks, adalah salah satu ikon paling mencolok dan kini dilindungi dengan sangat ketat oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur. Arca penjaga ini menggambarkan kekuatan magis dan protector spirit dari kerajaan kuno tersebut.
Upaya pelestarian situs Candi Singasari terus dilakukan. Pada bulan November 2024, misalnya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang bekerja sama dengan aparat kepolisian sektor setempat menggelar operasi pengawasan rutin selama satu minggu untuk memastikan keamanan situs dari aktivitas ilegal, khususnya pada hari libur. Data kunjungan yang tercatat oleh petugas pada akhir tahun 2023 menunjukkan bahwa situs ini menerima rata-rata 500 pengunjung domestik dan internasional per bulan, menegaskan peran candi ini bukan hanya sebagai peninggalan sejarah tetapi juga sebagai destinasi wisata budaya yang signifikan. Dengan segala keunikan arsitektur dan latar belakang sejarahnya yang kaya, Candi Singasari terus menawarkan jendela masa lalu yang memungkinkan kita memahami kebesaran peradaban Jawa kuno.