Di tengah hiruk pikuk Kabupaten Malang, berdiri dengan megah sebuah peninggalan bersejarah yang menjadi saksi bisu kejayaan salah satu kerajaan terbesar di Nusantara, yaitu Kerajaan Singasari. Monumen kuno ini dikenal sebagai Candi Singasari. Kehadirannya tidak hanya menjadi daya tarik pariwisata, tetapi juga sumber penting bagi para sejarawan dan arkeolog untuk menyingkap lembaran masa lalu Jawa Timur. Bangunan candi ini, yang diperkirakan dibangun pada abad ke-13 Masehi, merupakan representasi puncak kebudayaan Hindu-Buddha di era tersebut, terutama pada masa pemerintahan Raja Kertanegara, raja terakhir dan paling ambisius dari Singasari. Candi ini menawarkan narasi yang kaya tentang politik, spiritualitas, dan seni arsitektur Jawa Kuno yang luar biasa.
Kompleks candi ini terletak di Desa Candi Renggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Meskipun belum sepenuhnya selesai dipugar, struktur utama candi menunjukkan gaya arsitektur khas Jawa Timur yang ramping dan menjulang tinggi. Struktur candi utama terbuat dari batu andesit dengan fondasi yang kokoh, menampakkan keahlian para pemahat dan perajin batu pada masa itu. Candi Singasari memiliki keunikan karena dipercaya sebagai pendharmaan (tempat persemayaman) bagi Raja Kertanegara setelah wafat pada tahun 1292 M. Relief-relief dan patung di sekitar area candi, meskipun beberapa sudah hilang atau dipindahkan, mencerminkan perpaduan ajaran Siwa-Buddha yang lazim dianut pada periode Singasari. Salah satu arca yang paling terkenal dan masih berkaitan erat dengan candi ini, meskipun kini berada di Leiden, Belanda, adalah arca Prajnaparamita, Dewi Kebijaksanaan dalam ajaran Buddha, yang diduga adalah perwujudan dari Gayatri Rajapatni, istri Kertanegara.
Tak jauh dari candi utama, terdapat dua arca Dwarapala raksasa yang berfungsi sebagai penjaga gerbang. Arca-arca ini menjadi ikon unik dari situs ini karena ukurannya yang masif—tingginya mencapai kurang lebih 3,7 meter—dan ekspresi wajahnya yang garang, menunjukkan kekuatan magis yang dipercaya melindungi kompleks candi. Keberadaan arca Dwarapala ini diyakini merupakan penanda batas suci yang menghubungkan dunia luar dengan area sakral di dalam. Menurut catatan Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur (per tanggal 17 April 2023), arca Dwarapala tersebut adalah arca Dwarapala terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia, sehingga menarik perhatian tim peneliti dari Universitas Brawijaya pada bulan September 2024 untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang komposisi batunya.
Kunjungan ke Candi Singasari tidak hanya memberikan wawasan sejarah tetapi juga pengalaman pariwisata yang tenang dan edukatif. Tempat ini dibuka untuk umum setiap hari, mulai dari pukul 08.00 WIB hingga 16.00 WIB. Pihak pengelola candi, yang berada di bawah pengawasan petugas juru pelihara dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, rutin mengadakan kegiatan bersih-bersih candi (dikenal sebagai “Operasi Pembersihan Candi”) setiap minggu pertama di hari Jumat untuk memastikan kebersihan dan kelestarian situs. Pada bulan Mei 2025, misalnya, telah dilaksanakan upacara budaya sederhana untuk memperingati hari jadi Kerajaan Singasari yang dihadiri oleh perwakilan masyarakat adat setempat. Melalui upaya pelestarian yang berkelanjutan dan interpretasi sejarah yang mendalam, Candi Singasari tetap menjadi mercusuar yang menerangi kejayaan Kerajaan Singasari dan kekayaan budaya Jawa Kuno yang patut dibanggakan. Situs ini adalah harta karun nasional yang harus terus dijaga keutuhan dan kisahnya.