Jauh sebelum era Majapahit, peradaban kuno telah berkembang pesat di Jawa Timur bagian barat. Salah satu peninggalan terpenting dari masa pra-Islam di wilayah ini adalah Candi Karangbesuki. Situs ini dipercaya merupakan bagian tak terpisahkan dari Kerajaan Kanjuruhan, sebuah kerajaan Hindu-Buddha yang berdiri kokoh pada abad ke-8 Masehi. Penemuan dan penelitian terhadap Candi Karangbesuki memberikan jendela berharga untuk memahami struktur keagamaan dan sosial-budaya masyarakat Jawa kuno. Candi Karangbesuki menjadi bukti fisik keberadaan sebuah kerajaan yang berpusat di wilayah Malang pada masa yang sangat awal.
Kerajaan Kanjuruhan dan Peran Historis Candi
Kerajaan Kanjuruhan dikenal dari Prasasti Dinoyo yang berangka tahun 760 Masehi. Prasasti tersebut menyebutkan Ratu Dewasimha dan putranya, Raja Gajayana, yang memerintah kerajaan tersebut. Kerajaan ini diyakini sebagai kerajaan tertua di Jawa Timur, jauh mendahului Mataram Kuno di Jawa Tengah.
Candi Karangbesuki, yang terletak di wilayah yang kini dikenal sebagai Kecamatan Sukun, diyakini oleh para arkeolog sebagai salah satu kompleks peribadatan utama Kerajaan Kanjuruhan. Meskipun saat ditemukan kondisinya tidak lagi utuh dan hanya tersisa reruntuhan batu, penemuan ini sangat vital. Berdasarkan analisis stratigrafi dan temuan artefak pendukung, para peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) menyimpulkan bahwa candi ini dibangun pada rentang waktu yang sama atau sedikit lebih muda dari Prasasti Dinoyo, yakni sekitar abad ke-8 Masehi.
Struktur dan Temuan Arkeologi
Candi Karangbesuki pada dasarnya adalah kompleks candi yang terbuat dari batu andesit. Candi ini memiliki pola arsitektur Hindu, yang ditunjukkan oleh beberapa temuan penting di situsnya.
- Arca dan Relief: Meskipun banyak yang hilang, penggalian yang dilakukan pada tahun 1980-an menemukan beberapa fragmen arca dan relief yang bercorak Hindu. Salah satu temuan penting adalah arca Dwarapala yang kondisinya tidak lagi utuh, yang berfungsi sebagai penjaga gerbang candi. Arca ini menjadi penunjuk penting fungsi candi sebagai tempat peribadatan.
- Struktur Batu: Reruntuhan menunjukkan adanya struktur fondasi yang luas, mengindikasikan bahwa kompleks candi ini dulunya cukup besar. Para peneliti menduga candi ini memiliki tiga tingkatan atau halaman, mencerminkan konsep kosmologi Hindu.
Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, Dr. Bima Sakti, dalam seminar daring pada Jumat, 17 Oktober 2025, menyatakan bahwa orientasi Candi Karangbesuki—yang menghadap ke Barat—agak berbeda dari candi-candi Hindu lainnya di Jawa Tengah, yang umumnya menghadap ke Timur, menambah keunikan karakteristik budaya lokal di Kerajaan Kanjuruhan.
Saat ini, situs Candi Karangbesuki telah dipagari dan dikelola oleh pemerintah setempat, serta diawasi secara rutin oleh Petugas Jaga Situs dari BPCB. Pemeliharaan ini bertujuan untuk melindungi sisa-sisa reruntuhan dari kerusakan lingkungan dan aktivitas manusia, memastikan warisan berharga dari peradaban awal Jawa Timur ini tetap lestari.