Candi Jago dan Singosari: Menelusuri Jejak Kejayaan Kerajaan Majapahit

Menelusuri warisan arkeologi di Jawa Timur membawa kita pada dua situs purbakala yang sarat makna sejarah: Candi Jago dan Singosari. Kedua candi ini tidak hanya menjadi saksi bisu kejayaan Kerajaan Singasari, tetapi juga memiliki kaitan erat dengan pendirian dan masa awal Kerajaan Majapahit. Keberadaan dua kompleks candi ini, meskipun terpisah secara lokasi, saling melengkapi dalam menceritakan kisah para raja besar yang pernah berkuasa, terutama Raja Kertanagara. Candi Jago, yang secara administratif terletak di Desa Tumpang, Kabupaten Malang, diyakini sebagai tempat pendharmaan (penghormatan) bagi Raja Wisnuwardhana, ayah dari Kertanagara. Catatan sejarah menyebutkan bahwa pembangunan candi ini selesai pada tahun 1280 Masehi. Di sisi lain, Candi Singosari, yang terletak di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, diduga kuat merupakan candi pendharmaan untuk Kertanagara, raja terakhir Singasari, yang wafat pada tahun 1292 Masehi.

Struktur kedua candi ini menampilkan karakteristik yang berbeda namun sama-sama kaya akan relief. Candi Jago memiliki keunikan berupa teras berundak yang tidak lazim ditemukan pada candi Jawa Timur pada umumnya, mengingatkan pada struktur punden berundak zaman prasejarah. Relief di candi ini menggambarkan kisah-kisah keagamaan seperti Kunjara Karma dan Parthayana, yang mengandung pesan moral dan spiritual yang mendalam. Pengamanan situs-situs bersejarah ini menjadi prioritas tinggi. Sebagai contoh, pada hari Minggu, 27 November 2022, patroli rutin dilakukan oleh tim gabungan yang melibatkan Polsek Tumpang dan pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur. Kepala Pos Polisi Candi Jago, Aipda Yudi Santoso, menyatakan bahwa pengawasan ketat diperlukan untuk mencegah vandalisme dan pencurian artefak, mengingat nilai historis yang tak ternilai dari situs Candi Jago dan Singosari ini.

Hubungan antara Candi Jago dan Singosari dengan Majapahit terletak pada garis keturunan dan legitimasi kekuasaan. Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit, adalah menantu dari Raja Kertanagara (yang didharmakan di Candi Singosari). Dengan demikian, situs-situs ini menjadi fondasi historis yang menguatkan legitimasi Majapahit sebagai pewaris sah tradisi dan kekuasaan Singasari. Candi Singosari sendiri menunjukkan ciri arsitektur Jawa Timur yang matang, dengan bentuk yang relatif ramping dan menjulang. Meskipun puncak candi ini tidak utuh, beberapa arca penting seperti arca Dhyani Buddha dan arca Ganesha telah ditemukan di sekitarnya, menegaskan fungsi keagamaan candi sebagai kompleks Siwa-Buddha.

Pada akhir era Majapahit, kedua candi ini mulai mengalami kerusakan, baik akibat faktor alam maupun konflik politik. Upaya restorasi dan pelestarian terus dilakukan hingga kini. BPCB Jatim, pada tanggal 12 September 2024, mengumumkan rencana konservasi lanjutan untuk memperkuat struktur batu di beberapa bagian Candi Jago yang rapuh. Data inventaris BPCB menyebutkan bahwa terdapat lebih dari 50 fragmen batu berukir yang berhasil diselamatkan dari kawasan sekitar Candi Jago dan Singosari, yang kini tersimpan di museum dan balai konservasi. Jejak-jejak kejayaan masa lalu yang terukir pada batu-batu candi ini terus mengundang para peneliti, sejarawan, dan wisatawan untuk menyelami lebih dalam sejarah Nusantara yang agung, menjadikannya destinasi yang tak terpisahkan dari narasi besar peradaban Jawa. Pengunjung dapat menikmati kemegahan ini setiap hari kerja, dengan jam operasional resmi dari pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.

Theme: Overlay by Kaira Extra Text
Cape Town, South Africa