Kawasan Batu, yang dikenal dengan topografi perbukitan dan kondisi geologi yang rentan, menghadapi Ancaman Pergerakan Tanah di Kawasan Batu: Upaya Mitigasi Bencana Musiman yang hampir terjadi setiap tahun, terutama selama musim hujan dengan intensitas tinggi. Pergerakan Tanah di Kawasan Batu meliputi berbagai jenis, mulai dari longsor dangkal hingga pergerakan massa batuan yang lebih besar, yang dipicu oleh kejenuhan air tanah dan lereng yang curam. Tingginya curah hujan yang kerap terjadi pada bulan-bulan antara November hingga Maret menjadikan upaya Mitigasi Bencana Musiman bukan lagi sekadar respons darurat, melainkan kebutuhan struktural jangka panjang untuk melindungi nyawa dan infrastruktur di wilayah tersebut.
Analisis geologi menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah perbukitan di Batu terdiri dari batuan vulkanik yang lapuk dan tanah yang memiliki kohesi rendah, menjadikannya sangat sensitif terhadap perubahan kadar air. Ketika air hujan meresap ke dalam lapisan tanah, ia bertindak sebagai pelumas dan meningkatkan berat massa tanah, secara drastis mengurangi kekuatan geser internal. Berdasarkan data pemetaan kerawanan bencana yang dirilis oleh Badan Geologi pada 10 Desember 2025, tercatat adanya peningkatan signifikan pada zona kerentanan tinggi di lereng-lereng dengan kemiringan di atas $40^\circ$. Peningkatan kejadian Pergerakan Tanah di Kawasan Batu juga diperparah oleh praktik penggundulan hutan dan alih fungsi lahan yang tidak terkontrol di wilayah hulu, mengurangi vegetasi penahan air.
Untuk mengatasi Ancaman Pergerakan Tanah di Kawasan Batu, Upaya Mitigasi Bencana Musiman harus dijalankan dalam dua fase: struktural dan non-struktural. Mitigasi struktural meliputi pembangunan sistem drainase lereng yang efektif untuk mengalirkan air permukaan, pembuatan terasering dan penguatan lereng dengan retaining wall atau beton penahan. Proyek percontohan pembangunan retaining wall di Desa Sumber Brantas, yang dimulai pada hari Selasa, 21 Januari 2025, bertujuan untuk memberikan contoh penguatan lereng yang ramah lingkungan dan terintegrasi dengan tata ruang.
Sementara itu, mitigasi non-struktural melibatkan pendidikan publik dan pengembangan sistem peringatan dini berbasis komunitas. Masyarakat harus diedukasi mengenai tanda-tanda awal pergerakan tanah, seperti munculnya retakan baru di tanah atau bangunan, serta mata air baru yang tiba-tiba muncul. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, Bapak Danang Setyawan, dalam apel kesiapsiagaan bencana pada hari Minggu, 3 November 2025, menginstruksikan agar seluruh Kepala Desa memverifikasi jalur dan lokasi evakuasi aman, serta mengadakan simulasi evakuasi setiap bulan selama musim hujan. Dengan mengintegrasikan kedua jenis Upaya Mitigasi Bencana Musiman ini, dampak buruk dari Ancaman Pergerakan Tanah di Kawasan Batu diharapkan dapat diminimalisir secara efektif.