Ayam Tiren Atlet Binaraga Malang Viral, Pemkab Bersuara

Kisah miris atlet binaraga Kabupaten Malang mendadak viral di media sosial. Beberapa atlet terpaksa mengonsumsi ayam tiren, atau ayam yang mati sebelum disembelih, demi mencukupi kebutuhan protein. Kondisi ini terjadi karena minimnya anggaran yang mereka terima. Video yang memperlihatkan para atlet mengolah ayam tiren sontak menuai keprihatinan luas.

Fenomena ini menjadi cerminan gunung es permasalahan pembinaan atlet di daerah. Kebutuhan nutrisi atlet binaraga sangat tinggi, mencapai jutaan rupiah per bulan. Namun, dana yang dialokasikan seringkali jauh di bawah standar. Ini memaksa atlet mencari cara ekstrem untuk bertahan dan berprestasi.

Merespons viralnya kasus ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang akhirnya buka suara. Plh Sekda Kabupaten Malang, Nurman Ramdansyah, mengakui adanya keterlambatan pencairan anggaran. Keterlambatan ini disebut berdampak pada seluruh cabang olahraga yang akan berlaga di Porprov Jawa Timur 2025.

Nurman menjelaskan bahwa proses pencairan anggaran pemerintah tidak bisa dilakukan secara instan. Ada tahapan dan prosedur yang harus dilalui. Namun, ia memastikan bahwa dana untuk binaraga dan cabang olahraga lainnya sudah mulai dicairkan. Diharapkan ini dapat sedikit meringankan beban atlet.

Kisah ini juga mengungkap dilema moral dan kesehatan yang dihadapi para atlet. Mereka menyadari bahwa mengonsumsi ayam tiren dilarang secara agama dan berisiko bagi kesehatan. Namun, demi pembentukan otot dan persiapan Porprov, mereka terpaksa mengambil jalan tersebut.

Pelatih binaraga Kabupaten Malang, Indra Khusnul, juga menyampaikan keluh kesahnya. Ia berharap Pemkab lebih peka terhadap kebutuhan riil setiap cabang olahraga. Tidak hanya binaraga, tetapi juga cabor lain yang mengalami kesulitan serupa. Dukungan nyata sangat dibutuhkan.

Pasca-viralnya berita ini, berbagai pihak mulai menunjukkan kepedulian. Ada kades yang menyumbangkan ayam potong segar, bahkan undangan ke podcast nasional. Bantuan ini menunjukkan bahwa masyarakat dan pihak-pihak di luar pemerintah siap memberikan dukungan.

Kejadian ini harus menjadi momentum evaluasi bagi pemerintah daerah. Anggaran untuk pembinaan atlet harus menjadi prioritas. Nutrisi yang cukup adalah hak atlet untuk bisa berprestasi maksimal. Jangan sampai atlet berjuang sendiri.